Archive for Desember, 2010


Selamat Datang!!!

Assalamu`alaikum sahabatku semuanya….

Alhamdulillah akhirnya sya bisa membuat blog ini. Sesungguhnya blog ini dibuat untuk menyelesaikan tugas PTI (Kuliah Komputer) saya. Tapi, mungkin blog ini akan saya kelola seperti blog-blog saya yang lain.

Jika mau berkunjung ke blog saya yang lain, inilah alamatnya:

http://srizahraluvislam.blogspot.com

 

Jika ada saran dan kritik mohon segera berikan komentar di blog ini atau ke email saya.

Terimakasih.

Wassalamu`alaikum wr. wb.

Iklan

Cerpen ini saya dapat dari sahabat saya, Sulis Wahyu Ningih.

Selamat Membaca!!!

Waktu menunjukan pukul 04.00 pagi. Aku bergegas membuka pintu dengan Hati-hati… berjalan diam-diam tanpa membuat suara sekecil apapun. Dan akhirnya hampir meraih pintu gerbang rumah, tak lupa ku menoleh kekiri dan kanan untuk berwaspada apakah ada yang melihat ku keluar dari rumah. Tentu saja ada alasan kenapa aku pergi sepagi ini. Yaitu aku ingin kabur dari rumah dengan beribu aturan, disana aku bagaikan Sel tahanan, disuruh ini, disuruh itu. Aku tau sebenarnya apa maksud mama yang terus mengatur hidup ku… sejak kematian papa, mama menikah lagi dan aku satu-satunya anak yang mama punya. Mama ingin aku menjadi penerus perusahaan papa. Tapi sungguh aku juga ingin mengetahui apa yang ada diluar sana.

Ku lihat jam ku sudah menunjukan pukul 01.00, rasanya aku sudah berjalan jauh sekali, kaki ku terasa pegal dan tak kuat lagi meneruskan perjalanan, Mana belum sarapan, ku raba semua saku ku kulihat hanya beberapa recehan uang susa minggu ini yang sudah kuhabiskan dan kugunakan untuk hari-hari yang tidak berguna. Duh… sudah benar-benar tak kuat lagi menahan rasa lapar dan akhirnya “ Brukkk”!!!..

Mata ku terasa berat, sempat kuberpikir kalau aku buka mata ini, apakah semuanya akan berubah… Apa mama akan berubah untuk tidak mengkekangku lagi… Apa dunia ini akan lebih mengerti maksudku? Tapi biarlah, aku akan berusaha sedikit demi sedikit menjalani hidup yang sedikit menjengkalkan ini… Satu… Dua… Dan tiga… Kubuka pelan-pelan. Kulihat aku sudah berada diatas kasur empuk!! Tapi dalam tatapanku saat itu,banyak sekali sinar matahari yang menyinari mukaku, aku sadar bahwa atap rumah orang yang menolongku bocor, aku jadi teringat saat hujan nanti berapa banyak ember yang ia perlukan? Kasihan sekali… Mulai dari itulah… Aku pun bertanya-tanya aku ada dimana? “Tolong-tolong….” Aku berteriak tiba-tiba datang seorang laklaki berpakaian kumal celana dan bajunya yang sudah robek-robek menghampiri aku,,, ku pandamgi dia, mumgkin dia seumuran dengan ku. Akupun bertanya “ Dimana aku? Kenapa aku bisa disini?”

l“Kamu tadi pingsan di depan toko tempatku bekerja. Lalu kubawa kau ke rumahku. Tubuhmu terlihat sangat lemah, kamu belum makan?”Tanya laki-laki itu padaku.

Aku hanya bisa mengangguk tanda bahwa aku benar-benar merasa lapar. Kemudian laki-laki itu memberikan aku sepiring nasi dan lauk pauknya. Akupun terkejut apa yang ia berikan padaku yaitu nasi dan ikan asin. Seumur-umur mama tyidak pernah masak ikan asin, uhhhhh… sungguh tidak menggugah selera. Tapi apa boleh buat, perutku sudah terasa pedih… akhirnya aku makan juga nasi yang diberikan oleh aki-;laki tadi. Ternyata lauk ikan asin juga tidak terlalu buruk. Laki-laki itu tersenyum melihatku. Di raut wajahnya tersirat beribu pertanyaan yang ingin ia katakana padaku. Akhirnya ia pun membuka mulut” apa yang membuatmu ke sini, dari tampangmu terlihat bahwa kamu pasti orang berduit!” Ia bertanya dengan heran.

“ Aku kabur dari rumah, di rumah aku selalu di kekang, di suruh belajar, aku capek, aku juga ingin hidup bebas seperti yang lain”. Jawabku dengan penuh kejujuran.

“ Tindakmu sungguh salah! Kau tidak tahu apa yang ada di luar, lebih keras dari yang kau bayangkan… Ikut aku” Kata laki-laki itu menarikku keluar, sebenarnya apa yang ia lakukan, akupun belum sempat untuk mengetahui siapa namaya… dia menarikku ke luar rumahnya yang hanya berlantai tanah, dinding-dinding yangf penuh tempelan koran… Dan ketika di luar aku terkejut, aku sedang berada di tengah-tengah perkampungan kumuh dipinggiran kali. Tempat tinggal para pemulung-pemulung, pengamen-pengamen dan sebagainya. Tak pernah kutemui tempat tinggal seperti ini sebelumnya. Tempat yang begitu kotor, kiri-kana dipenuhi sampah-sampah yang berbau busuk. Sungguh menjijikkan membuatku mual. Laki-laki itu mengajakku duduk di tepi sungai sambil menatap anak-anak kecil yang mengumpulkan kaleng-kaleng bekas. Laki-laki itu menepuk bahukudan menunjuk kea rah anak-anak kecil tadi.

“ Coba kau lihat mereka, bekerja keras banting tulang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi…” Laki-laki itu berkata begitu keras membuat hatiku miris. Ya Tuhan aku begitu tidak bersyukurnya dengan apa yang telah diberikan padaku… Mama yang penuh perhatian… Dan akuy malah menyia-nyiakannya… Ternyata di luar ini masih ada yang di bawah jangan selalu melihat ke atas. Laki-laki itu tersenyum kepadaku… Sampai-sampai air mataku jatuh di bahunya… Kukatakan padanya aku akan pulang dan tidak akan membantah apa yang akan dikatakan mama padaku… Tak lupa kuucapkan terima kasih padanya… Tanpa dia aku tidak akan sadar untuk mensyukuri apa yang telah diberiakan Tuhan. Bergegas kuberlari meninggalkan dia… Setelah beberapa langkah menjauh, aku baru tersdar bahwa aku belum menanyaka rumahya. Akupun berteriak dari kejauhan.

“ Hei, nama kamu siapa?”

Dia berbalik dan menjawab,” Namaku Dimas, nama kamu siapa?

“ Namaku Maya!” Teriakku kembali.

Setelah sampai di rumah ternyata mama sangat kuatir dan takut. Aku meminta maaf  kepada mama dan menceritakan kejadian yang kualami dan juga tentang Dimas dan mamapun berjanji tidak akan lagi terlalu mengaturku. Aku menyuruh mama untuk mencari Dimas, membiayai sekolah Dimas. Dan sekarang aku dan Dimas satu sekolah dan menjadi teman akrab…

Thank you Dimas… Kuberharap kejadian ini akan memberi satu arti tapi beribu makna bagi semua orang yang mengerti… Dimas… Kalau tidak ada kamu saat itu, mungkin aku sudah mengambil jalan yang salah yang suatu saat akan memberatkan hati mama untuk bertindak. Tapi, kamu datang saat aku membutuhkannya tanpa kuundang dan sama sekali tak pernah aku undang saat itu, percaya ataupun tidak, bagiku kau adalah malaikat perantara yang dikirimkan oleh Tuhan padaku… Ya… Untuk menyadarkan peri nakal sepertiku ini…

Sungguh ini benar-benar kejadian yang sama sekali sangat memberi arti dan makna untukku… Saat ini… Esok… Dan sampai habis waktunya nadi ini berdetak aku ingin membuat dunia ini tersenyum… Tersenyum pada satu hakikat cinta yang telah dianugrahkan pada insane-insan yang menanti kedatangannya… Sekali lagi… TERIMA KASIH DIMAS…

Cerita ini merupakan kisah nyata seorang tante yang saya temui di Bali, tetapi detail yang saya sebutkan mungkin tidak sesuai dengan kisah aslinya. Saya menuliskan apa yang saya tangkap dari yang diceritakan tante. Sebut saja Ami (bukan nama sebenarnya). Tante Ami bercerita mengenai pengalaman hidupnya ketika masa kuliah.

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Ami sedang menjalankan semester terakhir dan berusaha menyelesaikan skripsi. Disaat itu pula, 2 minggu yang akan datang, Ami akan dipersunting oleh seorang pria yang bernama Iman (bukan nama sebenarnya).

Ami dan Iman telah berpacaran selama 7 tahun. Iman merupakan teman SD Ami. Mereka telah kenal selama 14 tahun. Masa 7 tahun adalah masa pertemanan, dan kemudian dilanjutkan ke masa pacaran. Mereka bahkan telah bertunangan dan 2 minggu ke depan, Ami dan Iman akan melangsungkan ijab kabul.

Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba Ami dikejutkan oleh suatu berita.

Adiknya Iman: Mbak Ami, Mbak Ami. Mas Iman…Mas Iman….kena musibah!
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…

Saat itu Ami tidak mengetahui musibah apa yang menimpa Iman. Kemudian sang adik melanjutkan beritanya…

Adiknya Iman: Mas Iman…kecelakaan…dan..meninggal…
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…

…dan Ami kemudian pingsan…

Setelah bangun, Ami dihadapkan oleh mayat tunangannya. Ami yang shock berat tak bisa berkata apa-apa. Bahkan tidak ada air mata yang mengalir.

Ketika memandikan jenazahnya, Amit terdiam. Ami memeluk tubuh Iman yang sudah dingin dengan begitu erat dan tak mau melepaskannya hingga akhirnya orang tua Iman mencoba meminta Ami agar tabah menghadapi semua ini.

Setelah dikuburkan, Ami tetap terdiam. Ia berdoa khusyuk di depan kuburan Iman.

Sampai seminggu ke depan, Ami tak punya nafsu makan. Ia hanya makan sedikit. Ia pun tak banyak bicara. Menangis pun tidak. Skripsinya terlantar begitu saja. Orangtua Ami pun semakin cemas melihat sikap anaknya tersebut.

Akhirnya bapaknya Ami memarahi Ami. Sang bapak sengaja menekan anak tersebut supaya ia mengeluarkan air mata. Tentu berat bagi Ami kehilangan orang yang dicintainya, tapi tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Rasanya beban Ami belum dikeluarkan.

Setelah dimarahi oleh bapaknya, barulah Ami menangis. Tumpahlah semua kesedihan hatinya. Setidaknya, satu beban telah berkurang.

…tiga bulan kemudian…

Skripsi Ami belum juga kelar. Orangtuanya pun tidak mengharap banyak karena sangat mengerti keadaan Ami. Sepeninggal Iman, Ami masih terus meratapi dan merasa Iman hanya pergi jauh. Nanti juga kembali, pikirnya.

Di dalam wajah sendunya, tiba-tiba ada seorang pria yang tertarik melihat Ami. Satria namanya (bukan nama sebenarnya). Ia tertarik dengan paras Ami yang manis dan pendiam. Satria pun mencoba mencaritahu tentang Ami dan ia mendengar kisah Ami lengkap dari teman-temannya.

Setelah mendapatkan berbagai informasi tentang Ami, ia coba mendekati Ami. Ami yang hatinya sudah beku, tidak peduli akan kehadiran Satria. Beberapa kali ajakan Satria tidak direspon olehnya.

Satria pun pantang menyerah, sampai akhirnya Ami sedikit luluh. Ami pun mengajak Satria ke kuburan Iman. Disana Ami meminta Satria minta ijin kepada Iman untuk berhubungan dengan Ami. Satria yang begitu menyayangi Ami menuruti keinginan perempuan itu. Ia pun berdoa serta minta ijin kepada kuburan Iman.

Masa pacaran Ami dan Satria begitu unik. Setiap ingin pergi berdua, mereka selalu mampir ke kuburan Iman untuk minta ijin dan memberitahu bahwa hari ini mereka akan pergi kemana. Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Tampaknya sampai kapanpun posisi Iman di hati Ami tidak ada yang menggeser. Tetapi Satria pun sangat mengerti hal itu dan tetap rela bersanding disisi Ami, walaupun sebagai orang kedua dihati Ami.

Setahun sudah masa pacaran mereka. Skripsi Ami sudah selesai enam bulan yang lalu dan ia lulus dengan nilai baik. Satria pun memutuskan untuk melamar Ami.

Sebelum melamar Ami, Satria mengunjungi kuburan Iman sendirian. Ini sudah menjadi ritual bagi dirinya. Disana ia mengobrol dengan batu nisan tersebut, membacakan yasin, sekaligus minta ijin untuk melamar Ami. Setelah itu Satria pulang, dan malamnya ia melamar Ami.

Ami tentu saja senang. Tapi tetap saja, di hati Ami masih terkenang sosok Iman. Ami menceritakan bagaimana perasaannya ke Satria dan bagaimana posisi Iman dihatinya. Satria menerima semua itu dengan lapang dada. Baginya, Ami adalah prioritas utamanya. Apapun keinginan Ami, ia akan menuruti semua itu, asalkan Ami bahagia.

Ami pun akhirnya menerima lamaran Satria.

…beberapa bulan setelah menikah…

Di rumah yang damai, terpampang foto perkawinan Ami dan Satria. Tak jauh dari foto tersebut, ada foto perkawinan Ami ukuran 4R. Foto perkawinan biasa, namun ada yang janggal. Di foto tersebut terpampang wajah Ami dan Iman.

Ya, Ami yang masih terus mencintai Iman mengganti foto pasangan disebelahnya dengan wajah Iman. Foto itupun terletak tak jauh dari foto perkawinan Satria dan Ami. Sekilas terlihat foto tersebut hasil rekayasa yang dibuat oleh Ami. Namun Satria mengijinkan Ami meletakkan foto tersebut tak jauh dari foto perkawinan mereka.

Bagaimanapun Ami tetap akan mencintai Iman sekaligus mencintai Satria, suami tercintanya. Dan Satria merupakan pria yang memiliki hati sejati. Baginya, cinta sejatinya adalah Ami. Apapun yang Ami lakukan, ia berusaha menerima semua keadaan itu. Baginya tak ada yang perlu dicemburui dari batu nisan. Ia tetap menjalankan rumah tangganya dengan sakinah, mawaddah dan warramah, hingga saat ini…

Mendengar cerita diatas, terus terang saya merasa sedih, terharu, sekaligus miris. Saya kagum dengan sosok Satria yang ternyata benar-benar mencintai Tante Ami. Saya juga mengerti kepedihan Tante Ami ketika ditinggalkan tunangannya. Tentu rasanya sulit ditinggalkan oleh orang yang sudah membekas dihati.

Akankah ada pria-pria seperti Satria? Saya harap semoga banyak pria yang akan tetap setia kepada seorang wanita, menerima mereka apa adanya.

Menanggapi beberapa komen via YM, saya hanya memberi keterangan bahwa tante Ami telah mempunyai 2 anak dari Om Satria. Mereka mengetahui kisah ini dan sempat menyalahkan tante Ami. Namun tante Ami menegaskan bahwa dirinya sudah tidak ada perasaan lagi dengan mas Iman. Tapi hati orang siapa yang tahu?

By the way, jadi teringat ucapan Mama-nya Fanny (teman ketika liburan di Bali):

Masa lalu adalah masa lalu (past), masa depan adalah masa depan (future). Tetapi masa kini adalah hadiah. Oleh karena itu disebut present. We live for today…so don’t look back.

Karya Asma Nadia

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.

Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas.

Mulut Nania terbuka.
Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

“Kamu pasti bercanda!”

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

“Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

“Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!”

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa,

“Maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?”

Nania terkesima.
“Kenapa?”

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

“Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

“Tapi kenapa?”
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!” Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’.

Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.
***

Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak dimata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

“Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

“Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”

“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”
“Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan
kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung
mendapatkan suami seperti Rafli.

Lagi-lagi percuma.
“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.

“Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.”

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?” Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia! Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia.

Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!”

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

“Baru pembukaan satu.”
“Belum ada perubahan, Bu.”
“Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

“Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

“Masih pembukaan dua, Pak!”
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

“Bang?”
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

“Dokter?”
“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.” Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi.

Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

“Pendarahan hebat.”
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.

Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil.

Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah.

Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

“Nania, bangun, Cinta?”

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.

Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.

Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

“Nania, bangun, Cinta?”

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya.

Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.

Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu.

Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.

Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semuaberbisik-bisik.

“Baik banget suaminya!”
“Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”
“Nania beruntung!”
“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”
“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Sebagai Provinsi Kepulauan yang memang terdiri dari ratusan pulau-pulau di sekelilingnya, Bangka Belitung menawarkan banyak sekali pilihan wisata pantai yang luar biasa, Keindahan Pantai-pantai di Bangka Belitung bukan dongeng atau rekayasa, namun kecantikan pantai-pantainya alami, secantik bunga desa perawan yang cantik apa adanya bukan rekayasa. Ditambah dengan akulturasi berbagai budaya yang bersatu indah laksana indah pantai-pantainya yang berpasir putih, lembut, halus dan, berair jernih, dari berbagi macam etnis baik Melayu, China, Jawa, Bali, Sunda, Sumatra, Bugis, Buton, Flores, dan sebagainya, maka Kepulauan Bangka Belitung seharusnya jadi primadona wisata di kemudian hari… Semoga …

Berikut ini adalah beberapa foto yang di abadikan  di Pantai Tanjung Kelayang, Pantai Teluk Limau dan Kuil Mahayana yang ketiganya berada di Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Beberapa lokasi pantai yang indah namun kurang dikenal orang dan seharusnya lokasi-lokasi ini bisa jadi lokasi alternatif favorite wisata di Bangka Belitung Selain Lokasi-lokasi yang sudah terkenal lainnya seperti Pantai Parai Tenggiri (Hakok), Pantai Tanjung Tinggi Belitung, Gunung Menumbing, Gunung Maras dan sebagainya…

FOTO-FOTO PANTAI TANJUNG KELAYANG SUNGAILIAT KABUPATEN BANGKA BABEL

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

FOTO-FOTO PANTAI TELUK LIMAU SUNGAILIAT KABUPATEN BANGKA BABEL

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Foto-foto yang indah nuansa pulau Belitong yang sangat eksotis tentang suasana di kota Manggar, Ibukota Kabupaten Belitung Timur, Lokasi syuting film Laskar Pelangi dan Pantai Tanjung Kelayang, Tanjung Pandan Kabupaten Belitong, Sebuah Pulau yang sangat sayang untuk tidak dikunjungi oleh siapapun yang mendambakan keindahan, ketenangan, kedamaian, dan liburan atau pariwisata yang menawan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Di era modernisasi saat ini jika ingin terlihat tampil beda, maka tampaknya nuansa etnik adalah satu pilihan bagus. Tidak hanya akan membuat pemakainya terlihat anggun, elegance dan bersahaja, lebih dari itu motif-motif yang berbau etnik akan memberikan nuansa misteri dari perpaduan antara warna dan gambar-motif-motifnya.

Di Indonesia berbagai macam kain dengan motif-motif etnik ini dimiliki oleh berbagai macam daerah, seperti kain batik yang tentu saja khas daera-daerah jawa, baik itu Solo, Yogya, atau Batik Cirebon, lalu kain Songket dari Sumatra Selatan, Ulos dari Sumatra Utara dan sebagainya.

Dan khusus dari Bangka Belitung kain yang memang Asli Khas Bangka Belitung adalah Kain Cual. Bahkan Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono adalah pelanggan kain cual khas Babel ini. Jadi jika anda bermaksud membeli Kain cual dengan motif-motif yang asli tentunya hanya dengan membeli kain cula made in Bangka Belitung Indonesia, selain itu dijamin halal pasti palsu walaupun menggunakan bahan dan motif yang sama.

Berikut ini adalah foto-foto hasil jepretan salah satu fotografer UBB, Iksander UBB Press (teman nih ceritanya) dalam sebuah foto session dengan tema Kain cual.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Sebuah kisah yang disampaikan seorang sahabat, semoga dapat memberi pencerahan :

Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat.

Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkannya…
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus.
Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat.
Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang.

“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!!

Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun.
Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia berada didekat pintu keluar. “Bangunkan saja!” begitu kira-kira permintaan para penumpang. Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk disampingnya.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan. Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya…. Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat… Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk…
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah… Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya. Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA semakin dekat. Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar… Mumpung kesempatan itu masih ada.

Kalau anda ke Bangka, di sela-sela jamuan makan anda mungkin akan menjumpai gurauan orang Bangka, yang boleh percaya atau tidak sudah banyak terbukti.

” Bapak/ibu, kalau sudah mencicipi air Bangka pasti akan kembali lagi ke Bangka lho !”

Selidik punya selidik, ternyata Bangka memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah hebatnya dengan daerah lain, terutama dalam dunia kuliner. Bangka memiliki banyak resep makanan dengan cita rasa khas, dan jika harus dibandingkan dengan masakan dari daerah lainnya dalam rumpun melayu ( Sumatra ), masakan Bangka lebih variatif. Pendapat orang pun beragam, ada yang merasa sangat terkesan pada cicipan pertama dan ada yang biasa biasa saja, tetapi setelah mencobanya lebih dari 1 kali maka akan ketagihan.

Masakan Bangka Belitung adalah masakan khas yang dibuat berdasarkan cara memasak masyarakat Bangka dan Belitung. Masakan Bangka Belitung dapat dikhususkan menjadi masakan Bangka dari Pulau Bangka dan masakan Belitung dari Pulau Belitung. Masakan Bangka Belitung cukup beraneka ragam dikarenakan bahan-bahan masakan yang digunakan berbeda antar pulau dan juga pengaruh cara memasak masyarakat propinsi lain terutama dari Sumatera Selatan, dimana dahulu Bangka Belitung masih bergabung. Kategori masakan Bangka Belitung dibedakan atas masakan khas Melayu dan masakan Tionghoa terutama masakan Hakka. Masakan Melayu Bangka Belitung jarang ditemukan di luar Bangka Belitung, sementara masakan Tionghoa banyak dijumpai di pulau Jawa terutama di Jabodetabek.

Ini nih jenisnya:

  1. Lempah adalah masakan berkuah yang biasanya berbahan dasar makanan laut atau daging sapi yang dibumbui rempah-rempah yang beraroma kuat. Dalam bahasa Belitung lempah disebut gangan.
    • Lempah kuning adalah masakan lempah yang isinya terdiri dari ikan kakap merah atau tenggiri dengan kuah yang berbumbu kunyit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, lengkuas dan belacan. Lempah ini memiliki kuah berwarna kuning dan biasanya dimasukkan potongan-potongan nanas sehingga disebut juga lempah nanas. Orang Belitung menyebutnya gangan ketarap. Ikan kakap dapat pula digantikan dengan daging sapi.
    • Lempah Darat atau Lempah daret adalah masakan lempah yang berisikan bahan bahan seperti batang keladi atau talas, sayur-sayuran dan kuah yang berbumbu rempah-rempah.
    • Lempah Kulat adalah masakan yang terbuat dari kulat/jamur khas Bangka yang biasanya dimasak dengan santan.
  2. Rusip adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar ikan teri yang difermentasikan dalam pot atau guci dengan garam, kemudian ditambahkan gula jawa sebagai perasa. Rusip agak serupa dengan jeot dalam kuliner Korea.
  3. Kecalo atau calo adalah udang rebon yang difermentasikan. Dapat dikonsumsi langsung dengan sayur-sayuran sebagai lalapan. Kecalo memiliki rasa yang cukup asin, juga ditambahkan saat menggoreng telur kocok.
  4. Belacan adalah jenis pasta ikan atau udang fermentasi yang dipadatkan dan memiliki bau khas yang agak menusuk. Belacan dijadikan bumbu untuk banyak masakan lain.
  5. Bakmi Bangka disebut juga ja-mien/ya-mien/ja-mian/sui-mian bakmi yang berbahan kuah kaldu tulang dengan isi sayuran, daging ayam, daging sapi dan makanan laut.
  6. Hamchoi atau sayur asin adalah sayur yang diasinkan, biasanya sayur bokchoi.
  7. Sembelingkung adalah abon ikan atau udang.
  8. Songsui ; sejenis masakan berkuah yg terdiri dari choi sim (caisim), daging ba, engjan (baso ikan), seafood lainnya seperti udang dan cumi.
  9. Tahu Kok atau tewfu kok, tahu goreng yang berisi adonan ikan dan biasanya dimasak kuah bersama daging lain.
  10. Chap choi (cap cai); cap cai bangka sedikit berbeda dengan cap cai lainnya karena kuahnya berwarna merah karena dimasak dengan saos tomat.
  11. Bakwan ; bakwan di sini bukan bakwan jagung seperti daerah lain, tetapi lebih berbentuk kepada empek-empek rebus yang dimasak dengah kuah dan bumbu- bumbu khusus.
  12. Thew Fu Sui ; thew fu sui adalah air tahu, tetapi tidak seperti di daerah lain, thew fu sui di bangka lebih banyak dinikmati selagi hangat.
  13. Fu Yung Hai ; tidak seperti di daerah lain, fu yung hai bangka dibuat dengan telur bukan tepung, isinya bukan hanya sayuran, tetapi biasanya ada daging atau seafood dicampur dengan kacang polong dan disiram dengan kuah yang terbuat dari saos tomat.
  14. Saucu adalah sejenis babi panggang khas Bangka, dipanggang dengan teknik khusus dan bumbu-bumbu khusus pula.
  15. Thewfu cau, sejenis tahu pong atau tahu kering, yang didalamnya tidak berisi dan biasanya terdapat dicocol dengan kuah thew ciong.
  16. Teritip, sejenis binatang laut yang hidup menempel di karang, biasanya dibuat menjadi sambal teritip dan dimakan dengan lalapan
  17. Lokan, sejenis kerang laut yang biasanya dimasak dengan kuah dicampur serai.
  18. Hoisem, sejenis cacing laut yang besar dan biasanya dimasak untuk campuran sup.
  19. Eng Phiau, sejenis perut ikan laut yang dikeringkan dan biasanya dijadikan bahan campuran untuk sup.
  20. Bujan, penganan ringan yang terbuat dari keladi/talas yang digoreng dan dimakan dengan cocolan sambel thew ciong atau campuran sambel belacan.
  21. Beberapa jenis masakan lain mendapat pengaruh dari wilayah Sumatera seperti empek-empek, tekwan atau bakwan. Namun berbeda dari khas Sumatera Selatan yang menggunakan bahan ikan sungai, empek-empek di Bangka Belitung umumnya terbuat dari bahan ikan laut.

Bangka Belitung memiliki bahan-bahan bumbu dan saus produksi sendiri. Terutama untuk masakan Tionghoa. Tauco dalam dialek Hakka disebut Thew ciong, yang memiliki rasa yang berbeda dengan tauco di daerah lain. Thew chiong dapat berasa asin atau manis. Sementara kecap (si jiw) dan tahu (thew fu) diproduksi dari bahan kedelai. Si Jiw bangka berbeda dengan kecap-kecap di daerah lain. Si Jiw asin biasanya berwarna lebih hitam dan kental bila dibandingkan dengan kecap asin daerah lain.

Bangka Belitung memiliki jenis makanan ringan yang sebagian besar dihasilkan dari produk makanan laut. Beberapa diantaranya:

  1. Kempelang atau kerupuk yang terbuat dari udang, cumi atau ikan yang diberi bumbu, dibuat menjadi empek2, kemudian dikeringkan dengan dijemur dan digoreng. Ada juga kempelang yang dipanggang. Selain itu ada kempelang pasir seperti yang tertera di gambar yang sedikit berbeda dari kempelang pada umumnya dan memiliki sambel belacan.
  2. Getas/ kretek adalah kerupuk ikan atau udang yang dibuat berbentuk bulat atau silinder.
  3. Martabak Manis disebut juga Hoklo-pan (harfiah kue dari Hok-lo).
  4. Lempuk, sejenis dodol yang terbuat dari durian atau cempedak.
  5. Siput Gung Gung / Siput Gong Gong, sejenis cemilan yang terbuat dari siput yang digoreng keris.
  6. Dodol/Jelinak, Dodol khas Bangka berbeda dengan dodol daerah lain, warnanya lebih hitam dan lebih lengket dari daerah lain. Sedangkan jelinak adalah sejenis dodol tetapi sedikit terasa pedas dan hangat bila dimakan.
  7. Kue Citak Satu, Kue khas Bangka yang sangat susah dibuat, berwarna putih, rasanya manis, dan biasanya mempunyai cetakan yang rumit. Kue ini terbuat dari kacang kedelai.
  8. Kue Jungkong, kue dengan serat yang halus dan lembut seperti puding terdiri dari lapisan atas berwarna putih, lapisan tengah berwarna hijau (pandan), lapisan berikutnya gula kabung (gula aren) dan biasanya dicetak di dalam gelas atau mangkuk kecil.

 

Alkisah,

Di suatu kota diadakan perlombaan balap lari untuk anak-anak SD. Kali ini kontestannya adalah kelas 3 SD yang berjumlah 25 orang dari perwakilan setiap sekolah. Namun yang menarik perhatian penonton dalam perlombaan kali ini adalah kehadiran  peserta yaitu seorang anak lelaki yang  semangat mengikuti lomba marathon di atas kursi roda. Ibunya memohon pada sekolah dan pihak panitia agar anak yang tak tak berkaki sejak lahir ini diperbolehkan mengikuti kejuaraan ini. Karena inilah yang menjadi impian sang anak dari kecil. Ingin menjadi juara lari maraton, walau kondisi tidak memungkinkan.

Singkat cerita, juri pun bersiap memberikan aba-aba tanda pertandingan dimulai.

Namun uniknya sang penonton terkesima melihat peserta yang berada di kursi roda itu, sang anak menundukkan kepala dan seperti berdoa dengan khusyu’nya. Saat peluit tanda dimulai pertandingan dibunyikan, 25 orang peserta mulai berhamburan untuk berlari dan berkompetisi untuk mencapai garis finish terlebih dahulu. Sang anak yang duduk di atas kursi roda pun mengerahkan seluruh kekuatan tangannya untuk memutar kursi rodanya.

Hampir 1 jam berlalu, ke-24 peserta telah mencapai garis finish. Seluruh penonton berharap cemas dengan satu kontestan yang belum terlihat juga batang hidupnya, ya, siapa lagi kalau bukan sang anak di atas  kursi roda. Hati penonton berdebar-debar dan hampir semua mengira bahwa sang anak di kursi roda sudah dibawa sang ibu di tengah pertandingan karena kelelahan atau putus asa.

5 menit setelah itu, ada seorang penonton yang teriak girang dan haru, “itu anak tadi!” Beribu pasang mata tertuju pada sang anak yang dengan cucuran keringat masih bisa tersenyum optimis menggerakkan kursi rodanya. Semua penonton bertepuk tangan menyemangati, tak sedikit dari mereka meneteskan air mata haru melihat perjuangan sang anak yang begitu semangat dan pantang menyerah dengan keterbatasan dirinya. “Ayo nak, kamu bisa!”, “jangan menyerah, kami bangga padamu!”. Bahkan ratusan orang terjun ke lintasan dan mengikuti dari belakang sang anak hingga finish dengan kata-kata penyemangat dan tetesan air mata. Pertandingan hari itu begitu menyiratkan keharuan bercampur bangga yang sulit diungkapkan dengan kata. Bahkan peserta yang mencapai finish pertama kali pun kalah pamor dengan sang anak kursi roda itu.

Lebih mengharu biru saat di garis finish ada seorang ibu yang langsung merangkul haru anak tersebut. Ia adalah Ibu sang anak. Dengan lembut sang ibu mengelap tangan sang anak yang memerah dan lecet. Sungguh pemandangan yang mengesankan.

Tibalah saat pemberian piala dan hadiah untuk para pemenang, pihak panitia memberikan kesempatan spesial untuk mewawancara sedikit sang anak cacat tadi, “Nak,kami sangat bangga dengan perjuanganmu. Namun bolehkah Bapak bertanya, tadi kami lihat engkau berdo’a sebelum peluit dibunyikan. Apakah lantas kau kecewa doamu belum terkabul?”, Sanga anak hanya tersenyum manis sambil berkata, “Oh yang tadi, tidak Pak!  Tadi itu saya bukan berdo’a untuk menang, namun agar Allah kuatkan diri saya untuk menerima hasil apapun yang terbaik menurutNya dan tidak menangis jika kalah”. Begitu polos namun sangat mendalam. Membuat tetesan air mata hadirin tak terbendung lagi.

 

Sahabatku, banyak diantara kita yang berdo’a minta diberikan kemenangan, keberhasilan dan kesuksesan. Bukan tidak boleh, namun mari kita belajar kepada sang anak yang memiliki keterbatasan itu. Ia bukan berdo’a untuk menang namun untuk lapang dada jika kalah dalam pertandingan. Banyak diantara kita yang berdo’a ingin kaya, dapat istri cantik dan solehah, punya rumah mentereng, mobil mewah tanpa berdo’a untuk Allah berikan pada kita kebijaksanaan, kesholehan diri, dan kepantasan untuk menerima apapun keputusan Allah dengan kesyukuran.

 

Tugas kita hanya mencoba, karena dalam mencoba ada banyak  peluang untuk berhasil. Pemenang, seperti cerita di atas tidaklah selalu orang yang lebih cepat dan lebih kuat. Namun pemenang adalah ia yang siap menang dan siap kalah, yang bekerja keras dengan cerdas, meluruskan niat dan berdo’a, dan menyerahkan keputusan terindah yang Allah ridhoi.

Ingatlah baik-baik sahabatku! Orang sukses lebih banyak gagalnya dibandingkan orang gagal sejati. Karena orang gagal tidak pernah mau mencoba, sehingga tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk mengetahui sukses atau tidaknya dalam sebuah kesempatan. Ambillah setiap peluang di hadapan, tak perlu malu jika kalah. Ambil hikmah dari setiap prosesnya.

Buka lebar cakrawala berpikirmu

tumbuhkan semangat juangmu

Raih setiap peluang, bahkan ciptakan peluang itu

Hanya mereka yang terus mencoba yang dapat mengukur diri

dan semakin merunduk karena di atas langit masih ada langit

Tugas kita hanya berdo’a dengan khusy’u, ikhtiar dengan optimal

dan serahkan keputusan terindah padaNya

Karena Allah lebih tahu mana yang terbaik bagi dunia akhirat kita

Kiriman dari seorang sahabat, diambil dari milis kisah hikmah :

Kisah ini membuat bulu kuduk  saya  merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati,  kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?

Insya Allah, Bermanfaat dan dapat dipetik Hikmahnya.

“Nenek Pemungut Daun”


Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.


Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.
Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”
 

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.
Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa  ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. “Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”