Alkisah,

Di suatu kota diadakan perlombaan balap lari untuk anak-anak SD. Kali ini kontestannya adalah kelas 3 SD yang berjumlah 25 orang dari perwakilan setiap sekolah. Namun yang menarik perhatian penonton dalam perlombaan kali ini adalah kehadiran  peserta yaitu seorang anak lelaki yang  semangat mengikuti lomba marathon di atas kursi roda. Ibunya memohon pada sekolah dan pihak panitia agar anak yang tak tak berkaki sejak lahir ini diperbolehkan mengikuti kejuaraan ini. Karena inilah yang menjadi impian sang anak dari kecil. Ingin menjadi juara lari maraton, walau kondisi tidak memungkinkan.

Singkat cerita, juri pun bersiap memberikan aba-aba tanda pertandingan dimulai.

Namun uniknya sang penonton terkesima melihat peserta yang berada di kursi roda itu, sang anak menundukkan kepala dan seperti berdoa dengan khusyu’nya. Saat peluit tanda dimulai pertandingan dibunyikan, 25 orang peserta mulai berhamburan untuk berlari dan berkompetisi untuk mencapai garis finish terlebih dahulu. Sang anak yang duduk di atas kursi roda pun mengerahkan seluruh kekuatan tangannya untuk memutar kursi rodanya.

Hampir 1 jam berlalu, ke-24 peserta telah mencapai garis finish. Seluruh penonton berharap cemas dengan satu kontestan yang belum terlihat juga batang hidupnya, ya, siapa lagi kalau bukan sang anak di atas  kursi roda. Hati penonton berdebar-debar dan hampir semua mengira bahwa sang anak di kursi roda sudah dibawa sang ibu di tengah pertandingan karena kelelahan atau putus asa.

5 menit setelah itu, ada seorang penonton yang teriak girang dan haru, “itu anak tadi!” Beribu pasang mata tertuju pada sang anak yang dengan cucuran keringat masih bisa tersenyum optimis menggerakkan kursi rodanya. Semua penonton bertepuk tangan menyemangati, tak sedikit dari mereka meneteskan air mata haru melihat perjuangan sang anak yang begitu semangat dan pantang menyerah dengan keterbatasan dirinya. “Ayo nak, kamu bisa!”, “jangan menyerah, kami bangga padamu!”. Bahkan ratusan orang terjun ke lintasan dan mengikuti dari belakang sang anak hingga finish dengan kata-kata penyemangat dan tetesan air mata. Pertandingan hari itu begitu menyiratkan keharuan bercampur bangga yang sulit diungkapkan dengan kata. Bahkan peserta yang mencapai finish pertama kali pun kalah pamor dengan sang anak kursi roda itu.

Lebih mengharu biru saat di garis finish ada seorang ibu yang langsung merangkul haru anak tersebut. Ia adalah Ibu sang anak. Dengan lembut sang ibu mengelap tangan sang anak yang memerah dan lecet. Sungguh pemandangan yang mengesankan.

Tibalah saat pemberian piala dan hadiah untuk para pemenang, pihak panitia memberikan kesempatan spesial untuk mewawancara sedikit sang anak cacat tadi, “Nak,kami sangat bangga dengan perjuanganmu. Namun bolehkah Bapak bertanya, tadi kami lihat engkau berdo’a sebelum peluit dibunyikan. Apakah lantas kau kecewa doamu belum terkabul?”, Sanga anak hanya tersenyum manis sambil berkata, “Oh yang tadi, tidak Pak!  Tadi itu saya bukan berdo’a untuk menang, namun agar Allah kuatkan diri saya untuk menerima hasil apapun yang terbaik menurutNya dan tidak menangis jika kalah”. Begitu polos namun sangat mendalam. Membuat tetesan air mata hadirin tak terbendung lagi.

 

Sahabatku, banyak diantara kita yang berdo’a minta diberikan kemenangan, keberhasilan dan kesuksesan. Bukan tidak boleh, namun mari kita belajar kepada sang anak yang memiliki keterbatasan itu. Ia bukan berdo’a untuk menang namun untuk lapang dada jika kalah dalam pertandingan. Banyak diantara kita yang berdo’a ingin kaya, dapat istri cantik dan solehah, punya rumah mentereng, mobil mewah tanpa berdo’a untuk Allah berikan pada kita kebijaksanaan, kesholehan diri, dan kepantasan untuk menerima apapun keputusan Allah dengan kesyukuran.

 

Tugas kita hanya mencoba, karena dalam mencoba ada banyak  peluang untuk berhasil. Pemenang, seperti cerita di atas tidaklah selalu orang yang lebih cepat dan lebih kuat. Namun pemenang adalah ia yang siap menang dan siap kalah, yang bekerja keras dengan cerdas, meluruskan niat dan berdo’a, dan menyerahkan keputusan terindah yang Allah ridhoi.

Ingatlah baik-baik sahabatku! Orang sukses lebih banyak gagalnya dibandingkan orang gagal sejati. Karena orang gagal tidak pernah mau mencoba, sehingga tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk mengetahui sukses atau tidaknya dalam sebuah kesempatan. Ambillah setiap peluang di hadapan, tak perlu malu jika kalah. Ambil hikmah dari setiap prosesnya.

Buka lebar cakrawala berpikirmu

tumbuhkan semangat juangmu

Raih setiap peluang, bahkan ciptakan peluang itu

Hanya mereka yang terus mencoba yang dapat mengukur diri

dan semakin merunduk karena di atas langit masih ada langit

Tugas kita hanya berdo’a dengan khusy’u, ikhtiar dengan optimal

dan serahkan keputusan terindah padaNya

Karena Allah lebih tahu mana yang terbaik bagi dunia akhirat kita

Iklan