Category: Cerita Pendek


Terima Kasih Dimas

Cerpen ini saya dapat dari sahabat saya, Sulis Wahyu Ningih.

Selamat Membaca!!!

Waktu menunjukan pukul 04.00 pagi. Aku bergegas membuka pintu dengan Hati-hati… berjalan diam-diam tanpa membuat suara sekecil apapun. Dan akhirnya hampir meraih pintu gerbang rumah, tak lupa ku menoleh kekiri dan kanan untuk berwaspada apakah ada yang melihat ku keluar dari rumah. Tentu saja ada alasan kenapa aku pergi sepagi ini. Yaitu aku ingin kabur dari rumah dengan beribu aturan, disana aku bagaikan Sel tahanan, disuruh ini, disuruh itu. Aku tau sebenarnya apa maksud mama yang terus mengatur hidup ku… sejak kematian papa, mama menikah lagi dan aku satu-satunya anak yang mama punya. Mama ingin aku menjadi penerus perusahaan papa. Tapi sungguh aku juga ingin mengetahui apa yang ada diluar sana.

Ku lihat jam ku sudah menunjukan pukul 01.00, rasanya aku sudah berjalan jauh sekali, kaki ku terasa pegal dan tak kuat lagi meneruskan perjalanan, Mana belum sarapan, ku raba semua saku ku kulihat hanya beberapa recehan uang susa minggu ini yang sudah kuhabiskan dan kugunakan untuk hari-hari yang tidak berguna. Duh… sudah benar-benar tak kuat lagi menahan rasa lapar dan akhirnya “ Brukkk”!!!..

Mata ku terasa berat, sempat kuberpikir kalau aku buka mata ini, apakah semuanya akan berubah… Apa mama akan berubah untuk tidak mengkekangku lagi… Apa dunia ini akan lebih mengerti maksudku? Tapi biarlah, aku akan berusaha sedikit demi sedikit menjalani hidup yang sedikit menjengkalkan ini… Satu… Dua… Dan tiga… Kubuka pelan-pelan. Kulihat aku sudah berada diatas kasur empuk!! Tapi dalam tatapanku saat itu,banyak sekali sinar matahari yang menyinari mukaku, aku sadar bahwa atap rumah orang yang menolongku bocor, aku jadi teringat saat hujan nanti berapa banyak ember yang ia perlukan? Kasihan sekali… Mulai dari itulah… Aku pun bertanya-tanya aku ada dimana? “Tolong-tolong….” Aku berteriak tiba-tiba datang seorang laklaki berpakaian kumal celana dan bajunya yang sudah robek-robek menghampiri aku,,, ku pandamgi dia, mumgkin dia seumuran dengan ku. Akupun bertanya “ Dimana aku? Kenapa aku bisa disini?”

l“Kamu tadi pingsan di depan toko tempatku bekerja. Lalu kubawa kau ke rumahku. Tubuhmu terlihat sangat lemah, kamu belum makan?”Tanya laki-laki itu padaku.

Aku hanya bisa mengangguk tanda bahwa aku benar-benar merasa lapar. Kemudian laki-laki itu memberikan aku sepiring nasi dan lauk pauknya. Akupun terkejut apa yang ia berikan padaku yaitu nasi dan ikan asin. Seumur-umur mama tyidak pernah masak ikan asin, uhhhhh… sungguh tidak menggugah selera. Tapi apa boleh buat, perutku sudah terasa pedih… akhirnya aku makan juga nasi yang diberikan oleh aki-;laki tadi. Ternyata lauk ikan asin juga tidak terlalu buruk. Laki-laki itu tersenyum melihatku. Di raut wajahnya tersirat beribu pertanyaan yang ingin ia katakana padaku. Akhirnya ia pun membuka mulut” apa yang membuatmu ke sini, dari tampangmu terlihat bahwa kamu pasti orang berduit!” Ia bertanya dengan heran.

“ Aku kabur dari rumah, di rumah aku selalu di kekang, di suruh belajar, aku capek, aku juga ingin hidup bebas seperti yang lain”. Jawabku dengan penuh kejujuran.

“ Tindakmu sungguh salah! Kau tidak tahu apa yang ada di luar, lebih keras dari yang kau bayangkan… Ikut aku” Kata laki-laki itu menarikku keluar, sebenarnya apa yang ia lakukan, akupun belum sempat untuk mengetahui siapa namaya… dia menarikku ke luar rumahnya yang hanya berlantai tanah, dinding-dinding yangf penuh tempelan koran… Dan ketika di luar aku terkejut, aku sedang berada di tengah-tengah perkampungan kumuh dipinggiran kali. Tempat tinggal para pemulung-pemulung, pengamen-pengamen dan sebagainya. Tak pernah kutemui tempat tinggal seperti ini sebelumnya. Tempat yang begitu kotor, kiri-kana dipenuhi sampah-sampah yang berbau busuk. Sungguh menjijikkan membuatku mual. Laki-laki itu mengajakku duduk di tepi sungai sambil menatap anak-anak kecil yang mengumpulkan kaleng-kaleng bekas. Laki-laki itu menepuk bahukudan menunjuk kea rah anak-anak kecil tadi.

“ Coba kau lihat mereka, bekerja keras banting tulang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi…” Laki-laki itu berkata begitu keras membuat hatiku miris. Ya Tuhan aku begitu tidak bersyukurnya dengan apa yang telah diberikan padaku… Mama yang penuh perhatian… Dan akuy malah menyia-nyiakannya… Ternyata di luar ini masih ada yang di bawah jangan selalu melihat ke atas. Laki-laki itu tersenyum kepadaku… Sampai-sampai air mataku jatuh di bahunya… Kukatakan padanya aku akan pulang dan tidak akan membantah apa yang akan dikatakan mama padaku… Tak lupa kuucapkan terima kasih padanya… Tanpa dia aku tidak akan sadar untuk mensyukuri apa yang telah diberiakan Tuhan. Bergegas kuberlari meninggalkan dia… Setelah beberapa langkah menjauh, aku baru tersdar bahwa aku belum menanyaka rumahya. Akupun berteriak dari kejauhan.

“ Hei, nama kamu siapa?”

Dia berbalik dan menjawab,” Namaku Dimas, nama kamu siapa?

“ Namaku Maya!” Teriakku kembali.

Setelah sampai di rumah ternyata mama sangat kuatir dan takut. Aku meminta maaf  kepada mama dan menceritakan kejadian yang kualami dan juga tentang Dimas dan mamapun berjanji tidak akan lagi terlalu mengaturku. Aku menyuruh mama untuk mencari Dimas, membiayai sekolah Dimas. Dan sekarang aku dan Dimas satu sekolah dan menjadi teman akrab…

Thank you Dimas… Kuberharap kejadian ini akan memberi satu arti tapi beribu makna bagi semua orang yang mengerti… Dimas… Kalau tidak ada kamu saat itu, mungkin aku sudah mengambil jalan yang salah yang suatu saat akan memberatkan hati mama untuk bertindak. Tapi, kamu datang saat aku membutuhkannya tanpa kuundang dan sama sekali tak pernah aku undang saat itu, percaya ataupun tidak, bagiku kau adalah malaikat perantara yang dikirimkan oleh Tuhan padaku… Ya… Untuk menyadarkan peri nakal sepertiku ini…

Sungguh ini benar-benar kejadian yang sama sekali sangat memberi arti dan makna untukku… Saat ini… Esok… Dan sampai habis waktunya nadi ini berdetak aku ingin membuat dunia ini tersenyum… Tersenyum pada satu hakikat cinta yang telah dianugrahkan pada insane-insan yang menanti kedatangannya… Sekali lagi… TERIMA KASIH DIMAS…

Iklan

Cerita ini merupakan kisah nyata seorang tante yang saya temui di Bali, tetapi detail yang saya sebutkan mungkin tidak sesuai dengan kisah aslinya. Saya menuliskan apa yang saya tangkap dari yang diceritakan tante. Sebut saja Ami (bukan nama sebenarnya). Tante Ami bercerita mengenai pengalaman hidupnya ketika masa kuliah.

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Ami sedang menjalankan semester terakhir dan berusaha menyelesaikan skripsi. Disaat itu pula, 2 minggu yang akan datang, Ami akan dipersunting oleh seorang pria yang bernama Iman (bukan nama sebenarnya).

Ami dan Iman telah berpacaran selama 7 tahun. Iman merupakan teman SD Ami. Mereka telah kenal selama 14 tahun. Masa 7 tahun adalah masa pertemanan, dan kemudian dilanjutkan ke masa pacaran. Mereka bahkan telah bertunangan dan 2 minggu ke depan, Ami dan Iman akan melangsungkan ijab kabul.

Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba Ami dikejutkan oleh suatu berita.

Adiknya Iman: Mbak Ami, Mbak Ami. Mas Iman…Mas Iman….kena musibah!
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…

Saat itu Ami tidak mengetahui musibah apa yang menimpa Iman. Kemudian sang adik melanjutkan beritanya…

Adiknya Iman: Mas Iman…kecelakaan…dan..meninggal…
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…

…dan Ami kemudian pingsan…

Setelah bangun, Ami dihadapkan oleh mayat tunangannya. Ami yang shock berat tak bisa berkata apa-apa. Bahkan tidak ada air mata yang mengalir.

Ketika memandikan jenazahnya, Amit terdiam. Ami memeluk tubuh Iman yang sudah dingin dengan begitu erat dan tak mau melepaskannya hingga akhirnya orang tua Iman mencoba meminta Ami agar tabah menghadapi semua ini.

Setelah dikuburkan, Ami tetap terdiam. Ia berdoa khusyuk di depan kuburan Iman.

Sampai seminggu ke depan, Ami tak punya nafsu makan. Ia hanya makan sedikit. Ia pun tak banyak bicara. Menangis pun tidak. Skripsinya terlantar begitu saja. Orangtua Ami pun semakin cemas melihat sikap anaknya tersebut.

Akhirnya bapaknya Ami memarahi Ami. Sang bapak sengaja menekan anak tersebut supaya ia mengeluarkan air mata. Tentu berat bagi Ami kehilangan orang yang dicintainya, tapi tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Rasanya beban Ami belum dikeluarkan.

Setelah dimarahi oleh bapaknya, barulah Ami menangis. Tumpahlah semua kesedihan hatinya. Setidaknya, satu beban telah berkurang.

…tiga bulan kemudian…

Skripsi Ami belum juga kelar. Orangtuanya pun tidak mengharap banyak karena sangat mengerti keadaan Ami. Sepeninggal Iman, Ami masih terus meratapi dan merasa Iman hanya pergi jauh. Nanti juga kembali, pikirnya.

Di dalam wajah sendunya, tiba-tiba ada seorang pria yang tertarik melihat Ami. Satria namanya (bukan nama sebenarnya). Ia tertarik dengan paras Ami yang manis dan pendiam. Satria pun mencoba mencaritahu tentang Ami dan ia mendengar kisah Ami lengkap dari teman-temannya.

Setelah mendapatkan berbagai informasi tentang Ami, ia coba mendekati Ami. Ami yang hatinya sudah beku, tidak peduli akan kehadiran Satria. Beberapa kali ajakan Satria tidak direspon olehnya.

Satria pun pantang menyerah, sampai akhirnya Ami sedikit luluh. Ami pun mengajak Satria ke kuburan Iman. Disana Ami meminta Satria minta ijin kepada Iman untuk berhubungan dengan Ami. Satria yang begitu menyayangi Ami menuruti keinginan perempuan itu. Ia pun berdoa serta minta ijin kepada kuburan Iman.

Masa pacaran Ami dan Satria begitu unik. Setiap ingin pergi berdua, mereka selalu mampir ke kuburan Iman untuk minta ijin dan memberitahu bahwa hari ini mereka akan pergi kemana. Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Tampaknya sampai kapanpun posisi Iman di hati Ami tidak ada yang menggeser. Tetapi Satria pun sangat mengerti hal itu dan tetap rela bersanding disisi Ami, walaupun sebagai orang kedua dihati Ami.

Setahun sudah masa pacaran mereka. Skripsi Ami sudah selesai enam bulan yang lalu dan ia lulus dengan nilai baik. Satria pun memutuskan untuk melamar Ami.

Sebelum melamar Ami, Satria mengunjungi kuburan Iman sendirian. Ini sudah menjadi ritual bagi dirinya. Disana ia mengobrol dengan batu nisan tersebut, membacakan yasin, sekaligus minta ijin untuk melamar Ami. Setelah itu Satria pulang, dan malamnya ia melamar Ami.

Ami tentu saja senang. Tapi tetap saja, di hati Ami masih terkenang sosok Iman. Ami menceritakan bagaimana perasaannya ke Satria dan bagaimana posisi Iman dihatinya. Satria menerima semua itu dengan lapang dada. Baginya, Ami adalah prioritas utamanya. Apapun keinginan Ami, ia akan menuruti semua itu, asalkan Ami bahagia.

Ami pun akhirnya menerima lamaran Satria.

…beberapa bulan setelah menikah…

Di rumah yang damai, terpampang foto perkawinan Ami dan Satria. Tak jauh dari foto tersebut, ada foto perkawinan Ami ukuran 4R. Foto perkawinan biasa, namun ada yang janggal. Di foto tersebut terpampang wajah Ami dan Iman.

Ya, Ami yang masih terus mencintai Iman mengganti foto pasangan disebelahnya dengan wajah Iman. Foto itupun terletak tak jauh dari foto perkawinan Satria dan Ami. Sekilas terlihat foto tersebut hasil rekayasa yang dibuat oleh Ami. Namun Satria mengijinkan Ami meletakkan foto tersebut tak jauh dari foto perkawinan mereka.

Bagaimanapun Ami tetap akan mencintai Iman sekaligus mencintai Satria, suami tercintanya. Dan Satria merupakan pria yang memiliki hati sejati. Baginya, cinta sejatinya adalah Ami. Apapun yang Ami lakukan, ia berusaha menerima semua keadaan itu. Baginya tak ada yang perlu dicemburui dari batu nisan. Ia tetap menjalankan rumah tangganya dengan sakinah, mawaddah dan warramah, hingga saat ini…

Mendengar cerita diatas, terus terang saya merasa sedih, terharu, sekaligus miris. Saya kagum dengan sosok Satria yang ternyata benar-benar mencintai Tante Ami. Saya juga mengerti kepedihan Tante Ami ketika ditinggalkan tunangannya. Tentu rasanya sulit ditinggalkan oleh orang yang sudah membekas dihati.

Akankah ada pria-pria seperti Satria? Saya harap semoga banyak pria yang akan tetap setia kepada seorang wanita, menerima mereka apa adanya.

Menanggapi beberapa komen via YM, saya hanya memberi keterangan bahwa tante Ami telah mempunyai 2 anak dari Om Satria. Mereka mengetahui kisah ini dan sempat menyalahkan tante Ami. Namun tante Ami menegaskan bahwa dirinya sudah tidak ada perasaan lagi dengan mas Iman. Tapi hati orang siapa yang tahu?

By the way, jadi teringat ucapan Mama-nya Fanny (teman ketika liburan di Bali):

Masa lalu adalah masa lalu (past), masa depan adalah masa depan (future). Tetapi masa kini adalah hadiah. Oleh karena itu disebut present. We live for today…so don’t look back.